Bahasa Indonesia Primadona

Posisi Indonesia pada masyarakat global sudah tidak asing lagi. Bahkan dengan berbagai kekayaan negeri ini, Indonesia mampu mencuri perhatian dunia. Seperti yang telah diketahui, Indonesia kaya akan budaya. Peningkatan ekonomi dan politik membuat wajah baru pada perpolitikan dunia. Peningakatan dalam bidang perekonomian pada negara berkembang seperti Indonesia merupakan cita-cita yang besar.
Keberagaman Indonesia menjadi kekayaan yang hasrus dijaga dan dilestarikan. Hal tersebut dinilai sangat penting untuk mempersatukan perbedaan. Bukan sesuatu yang mustahil jika perbedaan justru mempererat persaudaraan. Budaya Indonesia dipandang ‘lebih’ oleh masyarakat kancah global. Budaya tersebut mengakibatkan bahasa yang beragam. Apa yang dikatakan seseorang menggambarkan apa yang ada dalam pikirannya. Seperti itu juga pada masyaraakat Indonesia yang dikenal dengan keramahan dan kesopanan dalam berbahasa. Artinya bahasa menjadi identitas seseorang.
Sayangnya bahasa Indonesia saat ini tidak lagi menjadi perimadona di negara sendiri. Persaingan secara global juga mempengaruhi kedudukan bahasa. Bahkan bahasa Indonesia menjadi seperti terancam kedudukannya di rumah sendiri. Sebagai negara berkembang Indonesia memang membutuhkan usaha untuk kemajuan di masa mendatang, tetapi kedudukan bahasa Indonesia sebagai cerminan identitas bangsa tidak boleh bergeser begitu saja. Misalnya pada percakapan masayarakat saat ini. Seseorang yang berbahasa asing justru dinilai seperti memiliki kedudukan tingi. Kedudukan yang dimaksud adalah dalam intelektualnya.

ummi-saadah-foto-1 (Foto : Ummi Saadah)
Fakta-fakta telah membuka mata masyarakat tentang pergeseran bahasa Indonesia. Hal tersebut berarti penguatan bahasa Indonesia sudah mulai pudar. Bahasa asing seperti bahasa Inggris memang perlu dikuasai tetapi dengan tidak melupakan bahasa Indonesia begitu saja. Penggunaan bahasa asing saat ini memang marak. Apalagi dipengaruhi oleh aktivitas sosial yang global. Masayarakat seperti dituntut untuk berbahasa Inggris agar menjadi seseorang yang berintelektual tinggi.
Fakta telah membuktikan tentang penggunaan bahasa Indonesia yang kurang diperhatikan. Hal kecil tetapi bernilai besar. Misalnya saja dalam pergaulan sehari-hari banyak masyarakat Indonesia menggunakan kata Thank you daripada terima kasih. Hal ini sering terjadi pada seorang pedagang dan pembeli. Penggunaan bahasa Thank you sudah menjamur di masyarakat. Mengapa tidak “terima kasih”?
Kata “Thank you” seperti memiliki nilai yang lebih tinggi dibanding “terima kasih”. Hal ini sudah bukan sesuatu yang asing lagi bagi masyarakat. Tidak hanya kalangan pedagang. Seluruh lapisan masyarakat saat ini sudah menggunakan adat tersebut. Sangat disayangkan bila seorang anak didik yang selalu menggunakan kata Thank you tersebut. Padahal pembelajaran seluruh sekolah Indonesia mempelajari tentang bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sayangnya pengaplikasian yang kurang diperhatikan. Lagi-lagi ‘gengsi’ dan ‘tren’ dikedepankan. Penggunaan bahasa asing dalam pergaulan hanya karena trend dan gengsi adalah suatu kesalahan besar. Harusnya masyarakat mampu menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa asing tepat pada porsinya.
Memang tidak cukup jika penggunaan bahasa Indonesia hanya di kelas formal. Misal di ruang lingkup sekolah saja. Perlu diperhatikan pertumbuhan bahasa dengan mengutamakan penggunaannya. Seperti yang diketahui bersama bahwa bahasa itu dinamis. Sebab itu lah, bahasa Indonesia justru harus diutamakan agar mampu bersaing dengan bahasa-bahasa asing lainnya. Selain pada pendidikan formal peran orang tua juga penting dalam hal ini. Misalnya dengan membiasakan berbahasa Indonesia dilingkungan keluarga. Penggunaan bahasa yang tepat pada lingkungan keluarga bertujuan agar anak mampu menempatkan bahasa Indonesia, bahasa asing dan bahasa daerah tepat pada porsinya.
Pentingnya berbahasa harus diperhatikan. Mengutamakan berbahasa Indonesia dinilai penting sebab menceriminkan identitas suatu masyarakat sebagai masyarakat Indonesia. Selain itu juga penting untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai ‘Primadona” di negara sendiri.

Ummi Saadah

(Mahasiswa Sastra Indonesia)