Dampak Gadget Terhadap Minat Baca Anak

Generasi muda di zaman serba modern seperti sekarang lebih suka hal-hal yang berbau instan. Menggali informasi dari dunia maya adalah hal nomor sekian dari kebiasaan-kebiasaan berbau kekinian lainnya. Sehingga akibatnya, mayoritas yang diisi sektor kaum remaja itu kehilangan minat membaca. Kegiatan menyerap pengetahuan dari buku pun disubstitusikan dengan kegiatan mengotak-atik gadget dan menyelami jejaring sosial.
Sesungguhnya, ada penyebab yang menyertai kemunduran minat baca yang marak terjadi dewasa ini, yakni para orangtua yang terkesan membiarkan sang anak berlama-lama dengan gadget di tangan. Di balik semua itu, para orangtua berdalih memfasilitasi anak-anak dengan gadget mutakhir sebagai hiburan karena kesibukan mereka saat bekerja. Akibatnya, orangtua dan anak pun kehilangan quality time bersama. Seharusnya, para orangtua tidak membiarkan hal seperti ini terjadi. Kalau saja mereka masih bisa meluangkan waktu sedikit untuk keluarga, hal-hal berbau kekinian tersebut bisa diisi dengan aktivitas positif, seperti; piknik bersama, membuat hasta karya, ataupun sekedar bersenda gurau.
Dari situ pun, para orangtua bisa mengingatkan betapa pentingnya membaca beserta ekstrak dari membaca yang akan diterima di masa tua nanti. Tak lupa, mereka pun juga dituntut untuk membatasi penggunaan gadget untuk hal yang kurang bermanfaat di kehidupan sehari-hari.
Budaya baca memang belum pernah diwariskan nenek moyang kita. Kita hanya terbiasa mendengar berbagai dongeng, kisah, adat-istiadat secara verbal dikemukakan orang tua, nenek, dan tokoh masyarakat.
Sebenarnya bukan hanya itu alasan mengapa minat baca pada kaum muda menurun, masih banyak faktor-faktor lainnya. Kalau dirunut satu-persatu, faktor-faktor tersebut akan saling berintegrasi.
Membaca sama seperti sekolah. Sama-sama penting. Oleh karena itu, di samping peran orangtua yang mendompleng semangat anak untuk membaca, pihak sekolah juga harus mampu membuatnya menjadi kegiatan yang menyenangkan. Seperti dengan, mengundang alumni yang berkecimpung di dunia penulisan, mengadakan acara kebahasaan yang dikonversi ke dalam cara yang menyenangkan.
Peranan publik juga berperan penting untuk menyukseskan misi meningkatkan minat baca pada kaum muda. Ada cara yang bisa dilakukan, antara lain, menggelar pameran buku yang turut serta menghadirkan talk show yang dikemas dalam suasana yang apik dan ringan.
Selain itu, faktor yang mendorong mengapa minat baca pada kaum muda rendah adalah kurangnya sarana untuk memeroleh bacaan. Perpustakaan dan taman bacaan masih menjadi barang langka di masyarakat, khususnya perkotaan.
Membaca identik dengan buku. Hal tersebut bisa dinamakan membaca secara konvensional. Namun di era yang serba modern seperti sekarang, membaca dapat terlaksana tanpa ada presensi dalam bentuk buku fisik. Kita bisa memanfaatkan fitur eBook, sebuah aplikasi mutakhir yang dapat menopang minat baca tanpa harus membawa buku secara fisik. Cukup dengan satu gadget yang sudah tersambung dengan internet kemudian pilih menu eBook yang tersedia, kita sudah bisa menikmati ribuan judul buku dan jutaan referensi bacaan yang kita inginkan. Tentu saja hal tersebut memudahkan kita yang tidak harus membawa buku yang berat-berat. Akan tetapi, di balik itu semua ada pula kendalanya. Bagi para pembaca yang tidak memiliki gadget yang mumpuni untuk itu sehingga mereka pun mau tidak mau harus kembali pada metodelogi membaca secara konvensional; membaca buku fisik.
Persentase minat membaca pada kaum muda pun tidak sampai menyentuh angka 20 persen. Berdasarkan data UNESCO, persentase minat baca Indonesia hanya sebesar 0,01 persen.
“Ini berarti dari 10.000 orang hanya satu saja yang memiliki minat baca,” kata Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan, saat pembukaan pameran Islamic Book Fair (IBF), di Gedung Istora, Senayan, Jumat (27/2).
Nah, kalau sudah begitu apa yang bisa kita lakukan untuk menggerakkan angka-angka tersebut hingga menyentuh titik 100 persen?
Bangsa yang maju adalah bangsa yang berwawasan luas. Mereka berwawasan luas karena gemar menggali informasi. Pengetahuan yang mereka dapat berasal dari membaca buku. Jika kita menengok masa lalu, orang-orang di zaman itu belum mengenal internet. Terlebih Indonesia pernah dijajah oleh bangsa Eropa sehingga zaman kegelapan menyelebungi masyarakatnya, khususnya masyarakat pribumi. Bagi para kaum bangsawan, mereka memanfaatkan buku sebagai ladang pengetahuan dan informasi. Surat kabar di zaman dulu pun dijadikan sebagai media bertukar informasi. Agak ironis memang. Apabila dibandingkan dengan keadaan di masa sekarang, di mana informasi dengan mudah bisa dirambah dengan sabak digital yang terhubung dengan internet. Justru hal itu malah membobrokkan minat baca pada generasi muda di zaman sekarang.
Manfaat membaca banyak sekali. Satu di antaranya, mengasah kemampuan berpikir. Otak ibarat sebuah pedang, semakin diasah akan semakin tajam. Kebalikannya jika tidak diasah, juga akan tumpul.
Apakah alat yang efektif untuk mengasah otak? Jawabannya adalah buku.
Menurut Astri Novia (2010) pilihlah satu jenis buku yang Anda sukai, apakah literature klasik, fiksi ilmiah, atau buku pengembangan diri. Dengan cara ini otak akan bertambah kuat. Bacalah buku sebanyak mungkin. Menurut para ahli, keuntungan dari membaca buku dapat memberikan dampak yang menyenangkan bagi otak kita. Membaca juga membantu meningkatkan keahlian kognitif dan meningkatkan perbendaharaan kosakata.
Membaca dapat meningkatkan pemahaman dan memori, yang semula tidak mengerti menjadi lebih jelas setelah membaca. Esensi nyata dari manfaat di atas tentu dapat dirasakan oleh sebagian besar siswa dan mahasiswa. Logikanya, tidak mungkin siswa atau mahasiswa memahami materi pelajaran / kuliah kalau mereka tidak membaca. Dari sini jelas bahwa membaca sangat berperan dalam membantu seseorang untuk meningkatkan pemahamannya terhadap suatu materi yang dipelajari.
Tahukah Anda? Bahwa membaca juga dapat membantu mencegah resiko gangguan pada otak manusia seperti penyakit Alzheimer. Ketika membaca, otak akan diransang dan stimulus (ransangan) tersebut akan langusng dapat meningkatkan daya otak. Penelitian telah menunjukkan bahwa latihan otak seperti membaca buku atau majalah, bermain teka-teki silang, Sudoku, dan lain-lain dapat menunda atau mencegah kehilangan memori. Menurut para peneliti, kegiatan ini merangsang sel-sel otak dapat terhubung dan tumbuh.
Nah, sudah jelas bukan? Dari sekian faktor penyebab rendahnya minat baca pada kaum muda, masih ada manfaat yang dapat dipetik dari membaca. Semuanya kita kembalikan kepada diri kita masing-masing untuk menyadari berapa pentingnya membaca, dan tidak menjadi kendala berarti untuk menumbuhkan minat membaca dan mewariskannya.

Ratnawati

(Mahasiswa Sastra Indonesia)