Menggali Kuburan Lekra

Njoto dan Jurus 1-5-1
Jakarta, 17 Agustus 1950, sejumlah seniman berkumpul di Ibu Kota, tepatnya dikediaman Ashar, di antaranya: A.S Dharta, M.S. Azhar, Henk Ngantung, Joebar Ajoeb, Aidit, Sudharnoto, dan Njoto, mereka bersepakat mendirikan Lembaga Kebudayaan Rakyat atau yang yang lebih dikenal dengan akronim Lekra. Dan A.S Dharta terpilih sebagai sekretaris umum pertama Lekra. Ada beberapa alasan dibentuknya Lekra, salah satunya seperti yang dikatakan Hesri Setiawan, Sekretaris Pimpinan Daerah Lekra Jawa Tengah, dalam Lekra dan Geger 1965:Tempo, pembentukan Lekra tak bisa dilepaskan dari situasi politik Tanah Air kala itu. Setelah Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda pada 1949, Indonesia tidak bisa dikatakan merdeka seratus persen. Jadi, pembentukan Lekra bertujuan membebaskan diri dari ketergantungan pada negeri penjajah.
Dalam perjalannya, barangkali di antara para pendiri Lekra, Njoto mempunyai pengaruh paling besar. Njoto adalah pemuda jenius, saat usianya belum genap 33 tahun ia sudah mencapai puncak kejayaan sebagai manusia yang pernah hidup di bawah telapak kaki penjajah Belanda dan Jepang. Bahkan anak muda itu sangat dikagumi oleh semua orang dari berbagai golongan, khususnya golongan kiri. Lahir pada 1927 di Jember, Jawa Timur, Ayahnya, Raden Sosro Hartono, mendidiknya dengan ala militer yakni keras, tegas, dan displin. Pada saat usianya beranjak 16 tahun, anak muda cungkring itu sudah dipercaya menjabat wakil Partai Komunis Indonesia Banyuwangi dan menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat di Yogyakarta. Padahal saat itu ia masih duduk di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs atau orang pribumi menyebutnya Mulo-setingkat Sekolah Pertama di Solo, Jawa Tengah. Dan saat itu ia menjabat sebagai wakil ketua Central Comite Partai Komunis Indonesia atau yang akrab ditulis CC PKI.
Selain aktif di tubuh organisasi Lekra dan Partai Komunis Indonesia, Njoto juga menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Harian Rakjat. Media koran harian yang juga menjadi terompet Partai Komunis Indonesia ini, Njoto memberikan ruang seluas-luasnya pada seniman untuk menulis dan berpendapat, mengingat Njoto adalah seorang yang sederhana, terbuka, dan egaliter.
Di bawah kepimpinannya bisa dikatakan Harian Rakjat mencapai puncak kejayaann. Harian Rakjat yang berkantor di Jalan Pintu Besar Selatan Nomor 93, Kota Jakarta, yang meniru koran komunis dari Rusia, Pravda, dengan gaya tulisan yang meledak-ledak, tanpa basa-basi, dan tembak di tempat, diyakini gaya bahasa seperti itu dapat dimengerti dan disukai oleh golongan antah-berantah, akar rumput, atau manusia yang bertelanjang dada, itulah potret mahluk pribumi sebelum masuknya era reformasi dan globalisasi dalam kehidupan mutakhir kini.
Kejayaan Harian Rakjat dikuatkan dengan pernyataan Amarzan, oplah Harian Rakjat atau HR mencapai 100 ribu eksemplar. Sedangkan dalam catatan Program dan Pelaksanaan susunan Kementerian Penerangan 1958, menyebutkan oplah HR kurang lebih di angka 60 ribu eksemplar.
Solo 1959, Taman Sriwedari di Jalan Brigadir Jendral Selamet Riyadi menjadi saksi bisu atas terselenggaranya hajatan kongres pertama sekaligus yang terakhir Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Gapura dihiasi lukisan, umbul-umbul dan bendera Merah Putih tegak berkibar di sepanjang tepi jalan. Ribuan Mahluk bernama manusia berkumpul menyaksikan kemerihan dan hiburan. Di area taman satu demi satu seniman Lekra bergantian menampilkan pementasan puisi, ludruk, ketoprak, wayang orang, reog, tarian dan nyanyian.
Gaung terompet kemeriahan hari itu menandai dibukanya kongres pertama Lekra. Bahkan pesta kebudayaan berlangsung hingga sepekan. Setiap malam jumlah pengunjung mencapai 15 ribu orang. Ini adalah bukti pesona, kematangan, dan kebesaran organisasi yang dibentuk pada 17 Agustus 1950.
Tidak main-main pemimpin dan anggota kongres menggoreng matang arah perjuangan Lekra yang dibuktikan dengan merevisi dan merumuskan konsep kereja berkesenian. Hasilnya adalah lahir konsep 1-5-1. Yang berarti, kerja kebudayaan bergariskan politik sebagai panglima dengan lima kombinasi: meluas dan meninggi, tinggi mutu ideologi dan tinggi mutu artistik, tradisi baik dan kekinian revolusioner, kreativitas individual dan kearifan massa, serta realisme sosialis dan romantik revolusioner. Semua konsep itu diwujudkan dengan satu badan dan jiwa yakni turun ke bawah (turba).
Dalam perkembangannya, Lekra menjadi medan magnet bagi para seniman. Tidak ada satu pun wadah organisasi kebudayaan sebesar dan sekaligus dapat menandingi pesona Lekra yang mewabah hingga ke pelosok desa. Sejalan dengan ditelurkannya konsep kerja berkesenian 1-5-1, Lekra merombak struktur organisasinya beberapa bulan setelah kongres di Solo. Lekra menyusun lembaga kreatif, Februari 1959, Lembaga Seni Rupa berdiri, diikuti oleh Lembaga Film Indonesia pada tahun yang sama, April 1959. Masih di bulan dan tahun yang sama lembaga kreatif lainnya juga berdiri, yakni Lembaga Sastra Indonesia yang diketuai oleh Bakrie Siregar. Di tahun yang sama berdiri Lembaga Musik Indonesia, sedangkan yang berdiri belakangan adalah Lembaga Tari Indonesia, sebelum Lembaga Seni Drama Indonesia dibentuk pada tahun 1964.
Celakanya, lembaga kreatif Lekra menyerang semua pelaku seni dan budaya yang tidak sesuai dengan arah perjuangannya, atau mereka menyebutnya seni untuk rakyat. Di lembaga film contohnya, mereka melarang beredarnya film-film Barat, bagi meraka film Barat merusak karakter dan moral bangsa. Begitupun Lembaga Sastra Indonesia yang melarang beredarnya buku-buku Barat. Hampir semua perpustakaan dan toko buku dijejali buku-buku dari Rusia dan China. Semua lembaga kreatif Lekra berjalan satu komando dan barisan yakni memegang teguh konsep 1-5-1.
Manikebu versus Lekra
Pada 17 Agustus 1963, sejumlah seniman mendeklarasikan Manifestasi Kebudayaan, di antaranya: H.B Jassin, Trisno Sumardjo, Wiratmo, Goenawan Mohammad, A. Bastari, Soe Hok Djin atau yang dikenal dengan nama Arief Budiman. Meski terbilang berumur pendek, kurang lebih 10 bulan, nyatanya keberadaan Manifestasi Kebudayaan membuat Presiden Soekarno, Partai Komunis Indonesia, Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), dan kelompok Pro-Manipol Usdek lainnya gerah. Mereka ramai-ramai mengeroyok dan menggebuki Manifestasi Kebudayaan.
Slogan Manipol Usdek-Manifesto Politik, UUD 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kepribadian Indonesia yang dikhutbahkan Soekarno merupakan suatu jalan garis lurus proses penciptaan karya seni. Mereka yang menolak dan melanggar rambu-rambu tersebut akan diintimidasi, diganyang, atau bila perlu akan digelari kontrarevolusi. Tidak lain korbannya adalah pelaku dan pendukung Manifestasi Kebudayaan. Puncaknya pada 8 Mei 1964, Manifestasi Kebudayaan secara resmi dilarang oleh Pemerintahan Soekarno.
Hilang dari Ingatan
Tahun 1965 bisa jadi adalah tahun puncak kejayaan Lekra. Sebab, pasca Partai Komunis Indonesia gagal mengkudeta guna mengganti ideologi Republik Indonesia, atau yang dikenal dengan peristiwa G 30 S/PKI, Lekra terkena imbasnya. Semua yang berbau komunis dikejar-kejar, disiksa, dipenjarakan, diasingkan, dan dibunuh. Tak terkecuali para seniman Lekra. Sejatinya, tanggal 17 Agustus 2018 besok, bukan hanya merayakan hari jadi Negara Kesatuan Republik Indonesia, melainkan juga hari lahirnya organisasi kebudayaan besar yang pernah ada di Indonesia, tidak lain ialah Lembaga Kebudayaan Rakyat atau Lekra yang ke-58 tahun. Namun, badai politik menghancurkannya hingga ke akar-akarnya hanya dalam kedipan mata.
Lekra, barangkali telah hilang dari ingatan. Jikalau dianalogikakan dengan sebuah makam, maka kuburan dan nisan Lekra tidak dapat lagi ditemukan. Jalan Cidurian Nomor 19 bekas kantor sekretariat Lekra tak ada lagi. sebab, telah ditindas oleh bangunan lain, kini berdiri di atasnya Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Tri Dharma Widya. Barangkali, itu hanya satu dari sekian jejak Lekra yang coba dihapuskan dari ingatan.

Ade Mulyono

(Mahasiswa Sastra Indonesia)