Pria Malang

Seorang pria berdiri di seberang jalan memandangi perempuan-perempuan sekelilingku. Dia berdiri kaku dengan matanya yang berbinar. Di sampingnya karung putih yang setiap hari ia pikul untuk sekadar membeli makan dan beberapa batang rokok untuk dirinya. Wajahnya yang kusut hanya bisa melihat berlian yang berkeliaran di seberangnya. Tanpa boleh ia menyentuhnya secuil pun.

Entah apa yang dipikirkannya. Barangkali dia mau. Wajar kalau begitu. Mungkin hanya memandangi saja yang bisa ia lakukan saat ini. Dalam hatiku tertawa mentertawainya. Apa iya, dia bisa menyentuh kami?

Sesekali aku juga melihat tangan kanannya memegangi celananya tepat bagian penisnya. Haha, mungkin saja dirinya yang di dalam celana sedang berdiri tegak dan memberontak untuk ingin segera keluar. Tapi sang majikan berusaha menahannya karena sang majikan sadar bahwa dia bukan siapa-siapa.

Aku dan teman-temanku sering membicarakannya. Terkadang kita menjadikannya sebagai bahan candaan malam sembari menunggu para tamu datang untuk kita layani. Apa lagi yang perlu kita tertawakan jika sudah tidak ada lagi hal yang lucu di lingkungan kita? Apa kalian kira kalau kehidupan kita ini lucu? Aku yang akan mentertawakan kalian.

Tak ada yang lucu selain seorang pria yang berdiri menahan burungnya untuk keluar dari kandangnya.
Selalu banyak hal yang kita bicarakan dan tertawakan di setiap malamnya. Lebih mendominasi soal pria malang itu. Dia sebagai pria yang malang karena belum memiliki kebebasan. Burungnya saja tidak merdeka, apalagi dengan dirinya?

Seringkali aku atau teman-temanku mencoba menggodanya dengan sedikit mencolek tubuhnya atau sekadar menegurnya dengan suara yang menggoda. Tapi apa yang terjadi?

Pria itu malah semakin erat memegangi burungnya dan lari terbirit-birit. Malang sekali!

Sontak aku dan teman-temanku tertawa melihat tingkah kocak yang dilakukan pria itu. Bahkan sampai sekarang pun kita tidak mengetahui namanya. Padahal ia sudah lama tinggal di sebuah gubuk kecil di seberang warung kopi tempat biasa kita mangkal. Ya, bukan salah kita juga kalau kita tak memiliki nama panggilan yang bisa kita gunakan untuk pria itu. Lantas, kita memanggilnya ‘si Pria Malang’.

Ya, memang pria itu tinggal di sebuah gubuk seberang warung kopi Mas Sulai. Jadi, kita sering melihat aktivitasnya saat ia berangkat aktivitas dan pulang aktivitas. Bahkan Mas Sulai sendiri pun tidak tahu nama asli si pria malang itu. Sejak awal Mas Sulai punya warung kopi di sini, pria malang itu tidak pernah mampir bersinggah sejenak di warung kopi. Kalaupun mampir, hanya sekadar membeli rokok dan kopi dibungkus lalu dibawa pulang. Mungkin dia minder atau memang orangnya tertutup. Entahlah.
Tapi, dari warung kopi Mas Sulai, aku selalu melihat pria malang itu dari bilik jendela yang sedikit terbuka. Dia selalu memasukkan beberapa lembaran uang di sebuah kaleng. Aku hanya menduga saja, kalau itu adalah tabungan buat dia. Entah untuk pulang kampung, atau untuk anak istrinya di kampung. Tapi aku nggak tahu kalau dia punya istri atau anak di kampung. Atau, bisa saja ia menabung biar bisa kita layani mungkin. Aku nyengir-nyengir sendiri.

Ah, mana mungkin dia mau nyewa kita. Selain hal itu adalah ketidakmungkinan, dia ini sangat kuat agamanya. Aku sering melihat dia shalat. Bahkan dia rajin sekali shalat. Mungkin karena itulah dia hanya sekadar memandangi kita sambil menahan konaknya.

Walaupun aku sering melihat ia menaruh beberapa lembar di kaleng itu, aku tidak pernah sepeser pun mencurinya. Bisa saja aku lompat ke jendela gubuknya dan mengambil beberapa lembar di kaleng atau bahkan semuanya. Tapi entahlah, kenapa aku tidak ingin mengambilnya. Dalam hati nuraniku tidak menginginkan hal itu, walaupun aku memiliki pekerjaan yang kotor sejak diperkosa oleh pamanku sendiri.

Semoga hanya aku saja yang melihat pria malang itu menaruh lembaran di kaleng itu. Walaupun begitu, aku tidak ingin pria malang itu semakin malang karena kemalangannya dengan hilangnya tabungannya.
Dia masih saja berdiri di seberang jalan memandangi perempuan-perempuan sekelilingku. Dia berdiri kaku dengan matanya yang berbinar. Di sampingnya karung putih yang setiap hari ia pikul untuk sekadar membeli makan dan beberapa batang rokok untuk dirinya. Wajahnya yang kusut hanya bisa melihat berlian yang berkeliaran di seberangnya. Tanpa boleh ia menyentuhnya secuil pun.

Tapi, berbeda dengan malam-malam kemarin. Pria malang ini memberanikan diri menyebrang jalan dan menghampiriku. Apa yang terjadi?
“Aku punya tiga juta setengah” kata dia sembari mengeluarkan uang dalam karung putih miliknya. Ia berkata sambil berkeringat dan bergetar. Aku pun mengangah.

Ternyata benar dugaanku. Tak selamanya orang yang rajin shalat terlihat alim. Dia tergoda juga untuk terjun dalam sumur hitam. Atau mungkin dalam doanya ia memohon pada Tuhannya untuk segera mengumpulkan uang segitu banyaknya untuk menyewa perempuan sepertiku?

Bayangkan! Tiga juta setengah! Ini bisa menyewa aku dan temanku dalam dua hari dua malam. Aku tidak memberikan senyuman padanya. Langsung kutarik lengannya dan kutuntun dia menuju bilik kamar yang memang disediakan untuk para tamu menggunakan pelayanan kami.

Tiba di dalam bilik, aku masih melihat pria malang itu diam dan keringat semakin bercucuran. Dia gemeteran memegangi uangnya itu. Sambil menunduk tanpa melihatku sedikitpun. Berbeda denganku, aku semakin bringas menjemput uang segitu banyaknya. Segera kutanggalkan bajuku hingga tersisa beha dan sempakku yang menutupi bokong bahenolku. Kudekati dia sambil meraba tubuhnya yang tampak masih gemetaran.
“Tenang saja, kamu akan terbiasa kok nanti” Kataku dengan lembut.
“Berapa menit dengan uang segitu?” katanya sembari menjauh dariku. Wajahnya semakin tenang. Berbeda dengan tadi. Dia sudah tampak gugup.
Aku tersenyum padanya sambil berkata, “Kamu bisa menggunakan dua perempuan sekaligus dalam dua hari dua malam. Sekarang juga, aku bisa memanggil temanku kalau kamu mau.”
“Tidak. Aku hanya butuh lima menit saja.”
“Maksudmu?” tanyaku semakin bingung.
Dia melihat jam dinding dan menjawab pertanyaanku, “Uang ini tidak ada apa-apanya, dibandingkan dengan arti hidupmu”
Aku terdiam melihat ia meninggalkan uangnya di depanku setelah ia berbicara seperti itu.

Heru Cakiel