Musik Beramunisi Bahasa Indonesia

Dimensi aktivitas manusia selalu menjauhi statis, tapi tidak pernah sampai benar dinamis. Segala bentuk keberagaman sifat dan problem terus mengulang ritme di pangkal cerita. Namun dengan berbagai dekorasi nada variatif, sehingga menghanyutkan setiap penikmat baru dalam ruang duniawi yang sama. Manusia seakan memahami betul jika alur yang tersaji merupakan dasar paling intens. Dari sana mereka melahirkan budaya yang tidak dapat lepas dari jati diri untuk terus dilestarikan. Sejauh ini, umat manusia telah diberi kenikmatan terhadap manifestasi budaya yang membungkus tubuh mereka. Salah satunya adalah bahasa dan sastra.
Bahasa dan sastra adalah bagian dari budaya yang sampai sekarang masih perlu dilakukan renovasi. Pasalnya, pembelajaran pada ihwal ini belum begitu maksimal sampai pada titik stabil. Manusia di setiap era dan wilayah selalu terdistorsi oleh pengonversian bahasa ke dalam fragmen budaya lain yang keliru. Maksudnya, ketika bahasa itu sendiri tidak terstruktur secara benar dalam wujudnya yang baru. Lirik-lirik dalam lagu adalah gambaran paling jelas akan manifestasi bahasa dan sastra yang berperan penting kebenarannya. Secara luas, musik merupakan jalan dalam menentukkan sejauh mana bahasa melekat di diri manusia sesuai dengan sistem yang telah terkonvensi.
Musik telah berkembang dari setiap masa dan generasi di dunia. Akar penemuannya memang masih simpang siur hingga saat ini. Tidak ada yang tahu pasti di mana musik pertama kali hadir. Banyak sekali temuan-temuan akan benda yang dianggap sebagai cikal bakal alat musik di seluruh daratan bumi. Di balik itu semua, penyebaran musik justru lebih menjadi perhatian banyak pihak. Terutama karena peran musik di beberapa tempat nyatanya memiliki satu keselarasan. Musik adalah bagian dari jiwa. Maka dari itu, ia mampu menembus ruang waktu dan menjelma sebagai ikatan lekat manusia.
Beberapa artefak di Yunani menunjukkan bukti peran musik bagi kehidupan masyarakatnya, begitu juga di Cina maupun benua Afrika. Musik dipercaya sebagai bentuk komunikasi. Tak hanya antar sesama makhluk hidup, orang di zaman dahulu pun memakainya sebagai jembatan untuk berhubungan dengan si mati atau bentuk-bentuk suci. Ketika warisan ini terus turun ke anak-cucu mereka, bagian sakralnya perlahan memudar, hingga hadirlah fungsi musik sebagai hiburan.
Permainan musik berasal dari hati dan emosi penciptanya. Lirk-lirik pujian yang puitis kepada Tuhan maupun para pahlawan selalu menghiasi. Akan tetapi, pada masa Renaisans, ungkapan emosi tidak lagi dibuka menggunakan bahasa. Para musisi lebih senang menggunakan instrumen sebagai perwakilan tutur mereka. Tokoh-tokoh besar seperti Johan Sebastian Bach, Ludwig Van Beethoven atau Wolfgang Amadeus Mozart menjadi pencetus dari bunyi-bunyi tanpa arti yang dapat menjadi harmnoisasi apik di telinga.
Setelah zaman klasik, tepatnya pada abad kedua puluh, musik semakin bertransformasi ke arah modern. Lirik lagu kembali dimainkan bersama sentuhan instrumen. Alhasil, bahasa yang menjadi bagian dari musik turut menunjukkan eksistensinya. Melalui bahasa, para musisi berharap dapat merasuki pikiran pendengar. Secara tidak langsung hal ini bukan hanya membuat manusia mengagumi irama, tetapi turut menumbuhkan rasa cinta terhadap bahasa dan teknik bersastra akibat sajak-sajak melodius.
Indonesia merupakan salah satu negera dengan perkembangan musik yang signifikan. Mulai dari musik tradisional, sampai musik modern. Jika dilihat lebih pasti, tentu mengapresiasikan musik tradisional dapat membantu generasi penerus mempertahankan budaya bangsa. Namun, untuk menanamkan rasa cinta terhadap bahasa Indonesia melalui musik, perlu difokuskannya pendengaran ke arah musik modern.
Musik modern di Indonesia memang ditujukan secara universal sebagai sebuah hiburan, dan semenjak bahasa Indonesia diresmikan negara pada 18 Agustus 1945, seluruh masyarakat Indonesia wajib menggunakannya sebagai wujud persatuan. Melalui amunisinya yang berupa bahasa pemersatu ini, dapat mendoktrin pemikiran warna suku di Indonesia menjadi seragam. Tengok saja, sejak zaman Titiek Puspa, Koes Plus, sampai Iwan Fals menyodorkan musik mereka, jutaan pasang dengar di seluruh Indonesia mendendangkan lagu berakar sama, yaitu bahasa Indonesia.
Masyarakat Indonesia memang mengenal musik modern melalui pengaruh budaya barat. Suguhan media sejak masa radio, televisi, dan sekarang internet sudah menjadi arus nyaman penyebaran musik. The Beatles, Michael Jackson, Queen, dan ratusan musisi lain dari Eropa dan Amerika Utara mengentak kreativitas muda-mudi Indonesia untuk menunjukkan kemampuan mereka menyiram benih pada negeri sendiri. Walaupun begitu, tidak semua masyarakat Indonesia menerima musik karya anak bangsa dengan baik. Sejak tahun 60-an sampai sekarang ada saja kaum minoritas yang justru terbuai oleh musik dari luar Indonesia. Terlebih lagi di masa sekarang, yang mana perkembangan musik barat semakin tidak terbendung. Anak-anak justru lebih senang menyanyikan lagu asal Amerika Serikat atau Inggris. Ditambah, kemajuan industri hiburan di negara Asia lain seperti Korea Selatan, Jepang, dan India.
Melihat semua fakta-fakta yang ada memang rasa nasionalisme di diri bangsa Indonesia semakin menurun. Terutama dalam mengembangkan sastra Indonesia melalui lirik-lirik lagu. Hal ini jelas difaktori oleh pola pikir pemuda yang mudah terpengaruh karena tidak adanya filter dari serangan budaya asing. Kalau seperti ini terus, bahasa Indonesia dapat kehilangan tajinya di negeri sendiri, akibat lagu-lagu Justin Bieber, Adele, atau EXO.
Masalah ketidakcintaan terhadapa bahasa tanah air ini sebenaranya dapat dipangkas menggunakan senjata yang sama. Musik beramunisi bahasa Indonesia. Cara ini terbukti berhasil di masa lampau, dan pasti akan memiliki efek serupa di masa sekarang. Hal yang perlu disiasati hanya bagaimana musisi di Indonesia dapat membuat lagu berkualitas agar anak di Indonesia selalu terngiang dan menyanyikannya tiap saat. Dengan begitu, bahasa Indonesia akan terus ada dalam pikiran mereka. Dengan musik, pembelajaran terhadap bahasa dan sastra Indonesia dapat mengalir lebih fasih.

Dedy Reilandy

(Mahasiswa Satra Indonesia)