Menolak Punahnya Bahasa Daerah

Peribahasa Sunda Bilih aya turus bengkung yang jika diartikan sebagai pedoman agar berbicara baik untuk menghindari kesilapan kata, maupun bahasa Jawa Ajhining diri saka lathi ajining raga saka busana yang berarti bahasa merupakan cerminan diri, dan pakaian ialah cerminan ragawi. Dua peribahasa yang menempatkan tutur kata sebagai bagian penting dalam kebudayaan. Tak hanya itu, peribahasa kondang lainya ialah “Bahasa Cermin Budaya Bangsa” yang masih kita bisa lihat dalam slogan-slogan nampaknya menunjukan adanya perhatian khusus bagi masyarakat atas pentingnya bahasa. Namun sayangnya bahasa daerah yang moncer digaungkan oleh para leluhur kini mulai luntur dengan bahasa asing yang dianggap lebih keren untuk sekedar di update di laman media sosial.
Paradigma masyarakat yang mengukur bahasa Inggris maupun bahasa asing lainya sebagai parameter kecerdasan seseorang nampaknya harus menjadi perhatian khusus. Terlebih banyak masyarakat yang menilai bahasa daerah merupakan bahasa rendah yang dianggap katrok atau kampungan.
Indonesia tercatat mempunyai 741 bahasa daerah, namun sayangnya 139 bahasa etnis terancam punah. Arus urbanisasi, globalisasi dan perkawinan antar etnis menjadi salah satu faktor yang mendorong ditinggalkanya bahasa daerah sebagai bahasa induk masyarakat. Namun nampaknya data yang tertera belum bisa menggugah kesadaran berbahasa daerah bagi pemerintah.

dian-efendi-foto-2 (Gambar : Dian Effendy)

Mata pelajaran wajib di tingkat SD yang terdiri dari Agama, PPKn, Bahasa Indonesia, Matematika, Penjaskes dan Seni Budaya memunculkan pertanyaan, dimana letak bahasa daerah? Ya, bahasa daerah hanya dimasukan dalam prosentase kecil yang terkesan “dipaksakan” ada dalam muatan lokal. Bahasa Indonesia tampaknya masih menjadi primadona untuk dipelajari, sah memang karena bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional kita, namun bahasa daerah haruslah disejajarkan dengan mata pelajaran lainya agar masyarakat daerah tidak hanya pintar ngoceh bahasa Indonesia tetapi dapat melafalkan bahasa daerah dengan sama baiknya.
Tidak adanya pusat bahasa yang terbuka untuk umum, jangankan tingkat nasional gedung pusat bahasa daerah tidak pernah terlihat dimana letaknya membuat bahasa daerah semakin tidak dilirik. Jurusan bahasa daerah sama tragisnya, Bukan tidak ada peminatnya, melainkan program jurusan lain lebih masyhur dan menjadi pilihan bagi mahasiswa yang ingin melanjutkan studi di Universitas.
Pelestarian bahasa daerah menjadi kewajiban bagi masyarakat bahasa dan pemerintah. Hal ini bisa kita lakukan dengan menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar dalam dunia pendidikan dan kontak sosial dalam masyarakat. Pusat kebudayaan tingkat daerah bisa kita gunakan sebagai tempat mengenal budaya sekaligus bahasa. Dalam kalangan remaja, media sosial yang bebas dan luas membuka peluang tersebarnya bahasa daerah sekaligus memperkenalkanya kepada khalayak. Maka dari itu, mari bantu pelestarian bahasa daerah dengan menggunakanya sebagai bahasa sehari-hari untuk menolak punahnya bahasa daerah kita yang menjadi lambang identitas kita dalam masyarakat.

Dian Effendi

(Mahasiswa Sastra Indonesia)dian-efendi-foto-2