Menumbuhkan Semangat Baca

Dalam pandangan literasi dunia, Indonesia berada pada tempat yang cukup mengkhawatirkan. Hal tersebut dikarenakan berdasarkan hasil penelitian Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2012 menyebutkan, budaya literasi masyarakan Indonesia terburuk kedua dari 65 negara yang diteliti di dunia. Indeks membaca masyarakat Indonesia 0,001 yang artinya dari 1000 orang Indonesia, hanya satu yang suka membaca. Hal ini cukup disayangkan bahwa tingkat melek huruf di Indonesia sudah tinggi sekitar 96,3 persen, tetapi minat baca sungguh rendah.
Masyarakat Indonesia saat ini lebih gemar menonton televisi, bermain game, dan menggunakan gadget. Kemajuan teknologi berdampak serius dimana masyarakat tidak bisa lepas dari gadget. Hampir setiap menit mengganti status, mengunggah foto, tak pernah tertinggal setiap moment untuk diabadikan dalam posting-an. Seandainya waktu tersebut digunakan untuk membaca, sudah banyak halaman yang didapatkan. Tetapi masyarakat lebih senang menggunakan waktunya untuk update dimedia sosial ketimbang membaca buku.
Membaca buku belum dijadikan sebagai kebutuhan oleh masyarakat Indonesia. Dalam diri masyarakat membaca memerlukan waktu senggang dan membosankan. Pemikiran seperti itulah yang membuat masyarakat menjadi tidak suka membaca buku. Inilah yang menyebabkan penduduk Indonesia hanya membaca paling banyak tiga judul buku, dibandingkan dengan negara maju yang setiap penduduknya membaca 20 hingga 30 judul buku setiap tahun.
Untuk meningkatkan minat baca hal yang harus diubah ialah pemikiran masyarakat bahwa membaca harus menjadi kebutuhan, bukan saat adanya waktu senggang. Kategori membaca bukan hanya buku pelajaran, novel, cerpen, ataupun buku – buku yang memiliki halaman tebal. Membaca berita, artikel, essai yang hanya beberapa halaman juga dikategorikan membaca, karena menambah informasi dan pengetahuan. Biasanya yang menjadi masalah, masyarakat hanya membaca berita yang menarik seperti gosip dari para publik figur. Berita yang tidak berguna yang menjadikan pemikiran semakin sempit dan membicarakan keburukan orang lain.
Dalam agama Islam yang dianut oleh mayoritas masyarakat di Indonesia. Bahwasanya wahyu pertama yang diturunkan kepada Rasulullah ialah perintah iqro artinya bacalah. Betapa pentingnya perintah membaca itu, yang dalam sebuah film Iqro Petualangan Meraih Bintang menjabarkan makna Iqro mengandung tiga unsur bacaan. Pertama, memerintahkan umat Islam untuk membaca kitab suci Al- Quran yang menjadi pedoman bagi kehidupan. Kedua, memerintahkan umat Islam belajar untuk membaca lingkungan alam sekitar, kejadian fenomena alam, semua yang ada di dunia ini diatur sedemikian baiknya oleh Allah SWT. Ketiga, memerintahkan umat Islam untuk membaca hati yang berguna untuk memahami sifat dan karakter dalam diri seseorang. Sebagai makhluk sosial yang selalu berhubungan dengan banyak orang yang memiliki sifat dan karakter beragam, hal tersebut berguna untuk bisa saling memahami.

ria-setyowati-foto-2 (Foto : Ria Setyowati)
Dengan membaca memberikan banyak manfaat bagi masyarakat, bertambahnya wawasan dan pengetahuan dari setiap informasi baru yang didapatkan. Membantu dalam membuat sebuah karya tulis dengan perbendaharaan bahasa yang baik. Saat berbicara dengan orang lain, berbagi pengalaman dari membaca akan menjadikan pengalaman yang seru. Membaca juga mempengaruhi aspek kehidupan sosial, dimana bisa mengenal berbagai macam karakteristik seseorang, budaya, tempat tinggal, maupun kehidupan sosial. Betapa banyak sekali hal yang didapatkan dari membaca, sungguh sia-sia sekali apabila minat baca tidak ditumbuhkan dalam masyarakat di Indonesia. Untuk mengubah kebiasaan memang bukanlah perkara mudah, semua itu harus dimulai dari diri sendiri. Supaya nantinya mampu mempengaruhi orang lain. Tindakan nyata yang ditunjukkan lebih dapat diterima, daripada hanya sekedar mengingatkan. Semoga Indonesia nantinya bisa menjadi seperti negara Finlandia yang menempati peringkat sebagai negara paling literat di dunia.

Ria Setyowati

(Mahasiswa Sastra Indonesia)